Terrellterrell16's website

Our website

20
Ja
Pemahaman Aqiqah Merujuk Kepercayaan Islam
20.01.2017 05:49


Dari sisi bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya disebut ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang beserta penyembelihan tersebut. Ada yang mengatakan jika aqiqah merupakan nama untuk hewan yang disembelih, disebut demikian karena lehernya dipotong Ada pula yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Serabut yang terdapat pada penyelenggara si bayi ketika ia keluar atas rahim ibu, rambut tersebut disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah adalah penyembelihan domba/kambing untuk balita yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 upaya untuk balita laki-laki & 1 termuda untuk momongan perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Atas Samurah bin Jundab dia berkata: Rasulullah bersabda: “Semua anak momongan tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi seri dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Atas Aisyah dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang sama dan momongan perempuan wahid kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya saat hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh berfirman: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, dipastikan sembelihlah fauna dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Mulai ‘Amr bin Syu’aib mulai ayahnya, mulai kakeknya, Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi jadi hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang serupa dan untuk perempuan wahid kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW relasi ber ‘aqiqah untuk Laksmi dan Husain pada hari ke-7 daripada kelahirannya, sira memberi seri dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di dalam AI-Mustadrak perkara 4, sesuatu. 264]

Pemberitahuan: Hasan dan Husain merupakan cucu Rasulullah saw SAW.

Mulai Fatimah binti Muhammad tatkala melahirkan Hasan, dia berkata: Rasulullah menitahkan: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan argentum kepada orang-orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Dari Abu Buraidah r. a.: Aqiqah tersebut disembelih saat hari ketujuh, atau keempat belas, ataupun kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi dan Thabrani).

Hukum Aqiqah Budak adalah sunnah (muakkad) pantas pendapat Kepala Malik, warga Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Kepala Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama ahli fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai objek yang sunnah muakkadah ialah hadist Rasul SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai dengan aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan percik darinya selekeh (Maksudnya bercukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujaran: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah komando, namun tak bersifat wajib, karena terselip sabdanya yang memalingkan dari kewajiban adalah: “Barangsiapa diantara kalian tersedia yang ingin menyembelihkan bagi anak-nya, oleh karena itu silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Debu Dawud & An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan pendapat yang memalingkan perintah yang pada dasarnya wajib menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu sebagaimana layaknya nusuk (sembeliah denda larangan haji) dan udhhiyah (kurban), bukan boleh dalam aqiqah ini hewan yang picak, mersik, patah tulang, dan perih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam hewan aqiqah ini cacat-cacat yang bukan diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Lewat kami pada masa jahiliyah apabila lengah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih kibas dan menggores kepalanya beserta darah kibas itu. Oleh sebab itu setelah Yang mahakuasa mendatangkan Islam, kami merebahkan membantai kambing, mencukur (menggundul) kepala si bocah dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Abu Dawud perkara 3, hal. 107]

Mulai ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang dalam masa jahiliyah apabila meronce ber’aqiqah untuk seorang momongan, mereka melumangkan kapas dengan darah ‘aqiqah, lalu tatkala mencukur sabut si bocah mereka mengurapkan pada kepalanya”. Maka Nabi SAW berkata, “Gantilah sundut itu dengan minyak wangi”.[HR. Rumpun Hibban dengan tartib Pelerai demam Balban surah 12, hal. 124]

Menunaikan aqiqah dari sisi kesepakatan getah perca ulama adalah hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah pada mana Rasul SAW bersabda, “Seorang bani terikat dengan aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh dan diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan bukan bisa dilaksanakan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka di hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik berkata: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) bagi dasar bujukan, maka sekiranya menyembelih di dalam hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), ke 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah tersebut telah sempurna. Karena rukun ajaran Islam adalah memudahkan bukan merepoti sebagaimana panduan Allah SWT: “Allah menghendaki kemudahan bagimu dan gak menghendaki kesulitan bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Menunaikan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kelahiran, ini berdasar pada sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai secara hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, serta diberi sebutan. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, dan dishahihkan sama At Tirmidzi)

Dan bila tidak bisa melaksanakannya pada hari ketujuh, maka sanggup dilaksanakan dalam hari ke empat belas, dan kalau tidak sanggup, maka pada hari di dua puluh satu, itu berdasarkan hadits Abdullah Pelerai demam Buraidah atas ayahnya dari Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah ini disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, dan ke 2 puluh satu. ” (Hadits hasan riwayat Al Baihaqiy)

Namun sehabis tiga ahad masih tidak mampu dipastikan kapan selalu pelaksanaannya dalam kala sudah biasa mampu, karena pelaksanaan saat hari-hari di tujuh, ke empat belas dan di dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama bukan wajib. & boleh pun melaksanakannya pra hari ke tujuh.

Bayi yang tenang dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun bayi yang kelulusan dengan ukuran sudah berusia empat tarikh di dalam rahim ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada abi si momongan. Namun jika seseorang yang belum pada sembelihkan satwa aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, oleh sebab itu dia dapat menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri oleh karena itu hal tersebut tidak apa-apa menurut hamba, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan dalam hari ketujuh dari kelahiran. Jika bukan bisa, maka pada hari keempat belas kasihan. Dan jika gak bisa agaknya, maka pada hari kedua puluh tunggal. Selain ini, pelaksanaan aqiqah menjadi muatan ayah.

Tapi demikian, kalau ternyata ketika kecil ia belum diaqiqahi, ia bisa melakukan aqiqah sendiri dalam saat kuat. Satu tatkala al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah ketika besar ia boleh mengaqiqahi dirinya sendiri? ” Kepala Ahmad menyongsong, “Menurutku, bahwa ia belum diaqiqahi begitu kecil, oleh sebab itu lebih baik melakukannya seorang diri saat mantap. Aku gak menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga mereken demikian. Pendapat mereka, anak-anak yang telah dewasa yang belum diaqiqahi oleh sosok tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Nominal Hewan

Banyak hewan aqiqah minimal adalah satu upaya baik untuk laki-laki ataupun pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Pelerai demam Abbas ra: “Sesungguh-nya Nabi SAW mengaqiqahi Hasan serta Husain wahid domba wahid domba. ” (Hadits shahih riwayat Abu Dawud serta Ibnu Al Jarud)

Kalian harus ingat bahwa Patut dan Husain adalah bujang kembar. Jadi pada satu kelahiran tersebut disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih terpenting adalah dua ekor untuk anak laki-laki & 1 ekor untuk bani perempuan bertolak pada hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW menitahkan agar dsembelihkan aqiqah atas anak laki-laki 2 ekor sedia dan atas anak perempuan satu kontrol. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad serta Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra mengatakan, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan itu agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki 2 ekor sedia yang selevel dan daripada anak perempuan satu sudut. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan beserta ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang bani

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama serta mencukur sabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir di dalam hari Minggu, ‘aqiqahnya lewat pada hari Sabtu.

dua. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan 2 ekor kambing sedang untuk anak cewek 1 ekor.

3. ‘Aqiqah ini paling utama dibebankan kepada orang tua si anak, namun demikian boleh juga dilakukan sama keluarga yang lain (kakek & sebagainya).

4. Aqiqah tersebut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Baik Mentah Atau Dimasak

Disarankan agar dagingnya diberikan di dalam kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya dua ekor kambing untuk bani dan tunggal ekor wedus untuk keturunan perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dikonsumsi (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Ketuat aqiqah diberikan kepada tetangga dan melarat miskin juga bisa diberikan kepada orang2 non-muslim. Apalagi jika hal itu dimaksudkan untuk menarik simpatinya dan dalam kerangka dakwah. Dalilnya adalah nasihat Allah, “Mereka memberi membaham orang seman, anak yatim, dan tahanan, dengan sikap senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada ketika itu ialah orang-orang ridah. Namun demikian, keluarga pun boleh memakan sebagiannya.

Yang berhubungan dengan binatang sembelihan

1. Di dalam masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah wedus, tanpa memandang apakah nyali besar atau betina, sebagaimana riwayat di pangkal ini:

Mulai Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia pernah bertanya lawan Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka petuah beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki dua ekor kibas dan untuk anak dara satu sudut kambing. Gak menyusahkanmu indah kambing itu jantan atau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di Nailul Authar 5: 149]

Dan abdi belum meraih dalil lainnya yang mengisyaratkan adanya binatang selain kibas yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Zaman yang dituntunkan oleh Rasul SAW menurut dalil yang shahih ialah pada hari ke-7 semenjak kelahiran bujang tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Akan halnya dagingnya jadi dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan sebagian dagingnya, & mensedekahkan sekitar lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menimba kerabat & tetangga untuk menyantap sasaran daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin mengatakan: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga sedang kepada kaum muslimin, dan mampu mengundang sobat-sobat dan kerabat untuk menyantapnya, atau mampu juga dia mensedekahkan segenap. Syaikh Putra Bazz mengatakan: Dan tuan bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya dan memasaknya lalu mengundang orang-orang yang engkau lihat layak diundang atas kalangan suku, tetangga, sobat-sobat seiman dan sebagian orang faqir untuk menyantapnya, dan hal seperti dikatakan sama Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi jika ada kaitan antara definisi sebuah seri dengan yang diberi sebutan. Hal ini ditunjukan dengan adanya sejumlah nash syari yang menyarankan hal tersebut.

Dari Debu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam semoga Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Yang mahakuasa mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menghiraukan sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam nama berkaitan dengannya sehingga serasa makna-makna itu diambil darinya dan serasa nama-nama itu diambil atas makna-maknanya”. Meski anda ingin mengetahui imbas nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits pada bawah berikut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang menurut Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku elakan: “Hazin” Rasul berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Putri Al-Musayyib berkata: “Orang tersebut senantiasa bersikap keras terhadap kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang elok untuk anak-anak menjadi salah satu kewajiban pengampu. Di antara nama-nama yang bagus yang ranggi diberikan merupakan nama nabi penghulu zaman yaitu Muhammad. Sebagaimana bicara beliau: Mulai Jabir Ra dari Nabi SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau menggunakan kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Orang islam 2133)

Untuk mengetahui cara pemberian nama yang baik pendapat ajaran Islam, silahkan faksi:

Memberi Identitas Bayi alias Anak Dengan Islami


Mencukur Rambut

Membabat rambut adalah anjuran Nabi yang benar baik untuk dilaksanakan saat anak yang baru real pada hari ketujuh.

Pada hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. aqiqah bandung Bersabda, “Setiap anak terjepit dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi pamor, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik menyampaikan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Rancak dan Husein lalu sira menyedekahkan galuh seberat serabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut harus dilakukan dengan rata; bukan boleh hanya mencukur beberapa kepala & sebagian yang lain dibiarkan. Pasti lah semakin banyak sabut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar pun sedekahnya.

Ciri Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Memiliki arti: Dengan sebutan Allah, akur Allah terimalah (kurban) atas Muhammad serta keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa balita baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Mempunyai: Aku berlindung untuk bani ini secara kalimat Yang mahakuasa Yang Simpan dari seluruh gangguan syaitan dan huru-hara binatang serta gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat jorok bagi apa-apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Dari segi Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di sebuah situs memiliki beberapa nasihat diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW di meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Yang mahakuasa SWT menerima putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Di dalam aqiqah tersebut mengandung unsur perlindungan mulai syaitan yang dapat meranyau anak yang terlahir itu, dan tersebut sesuai dengan makna hadits, yang artinya: “Setiap keturunan itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Maka itu Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Tuhan lebih terlindung dari gelaran syaithan yang sering meranyau anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud sama Al Imam Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.

3. Aqiqah adalah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi ke-2 orang tuanya kelak saat hari perkiraan. Sebagaimana Imam Ahmad mengatakan: “Dia tergadai dari melepaskan Syafaat bagi kedua orang-orang tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud merasai syukur untuk karunia yang dianugerahkan Tuhan Subhanahu wa Ta’ala beserta lahirnya sang anak.

5. Aqiqah sebagai sarana mengadakan rasa semarak dalam melaksanakan syari’at Islam & bertambahnya keturunan mukmin yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah memperkuat ukhuwah (persaudaraan) diantara warga.

Dan sedang banyak juga hikmah yang terkandung dalam pelaksanaan Syariat Aqiqah itu.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Debu Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Duli Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Bentala al-Bustoni, dengan judul “Aqiqah” terbitan Sirat Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Comments


Free homepage created with Beep.com website builder
 
The responsible person for the content of this web site is solely
the webmaster of this website, approachable via this form!